Sinopsis Jodha Akbar ANTV Episode 131

Posted by

Sinopsis Jodha Akbar ANTV Episode 131. Jalal tiba di depan kamar Jodha. Melihat ada pelayan yang berjaga, Jalal sedikit tertegun. tetapi dengan pura-pura gak terjadi apa-apa dia terus melangkah hingga di depan pintu. Dia mengintip kedalam lalu tersenyum. Jalal mengulurkan sekantong uang pada pelayan yang berjaga di pintu sambil berpesan, "jangan ada yang masuk kedalam, kami ingin sendirian." para pelayan kemudian pergi dari depan kamar Jodha. Jalal tersenyum senang. Di dalam kamar, Jodha sedang bersiap-siap untuk pergi tidur. Dia berdiri didepan jendela sambil mengenakan baju tidur tanpa lengan dan sedang berusaha melepaskan semua perhiasan di tubuhnya. Jodha membuka anting-antingnya dan menyimpannya di kotak perhiasan. tetapi saat hendak membukan gelang tanganya, dia sedikit kesulitan.

http://informasidiary.blogspot.com/2014/12/sinopsis-jodha-akbar-antv-episode-131.html

Dia lalu memanggil Moti sambil mengulurkan tanganya,"Moti, bantu saya melepas gelangku.." Jalal datang, dia memegang tangan Jodha hendak membantunya melepas gelang. Jodha terkejut dan bertanya, "Yang Mulia, kau? Kesini selarut ini?" Dengan mesra Jalal memandang Jodha. Lanjut Jodha, "tak ada yang memberitahu saya kalau kamu datang." Jalal tersenyum, "kau juga gak butuh ijinku sebelum mengirim surat itu." Jalal kemudian membantu melepaskan gelang tangan Jodha. Jodha merasa malu dengan baju yang di kenakannya, dia bergegas mengambil mentel tidur lengan panjang dan memakainya. Lalu dia berdiri di tempatnya sambil membenahi rambutnya yang panjang tergerai. Jalal menghampirinya dan berdiri di belakang Jodha. Jalal ingin menyentuh Jodha tetapi mengurungkan niatnya. Jalal dengan excited bertanya, "apapun yang kamu tulis di surat itu, Ratu Jodha. kamu bisa mengatakannya secara langsung padaku." Jodha tersenyum, "akan ku lakukan, tetapi saya tak berani. saya tak tahu bagaimana cara mengatakannya padamu. saya tak tahu bagaimana mengatakan kalau pria yang dulu saya benci, sekarang adalah..." Jalal menyentuh pundak Jodha dan memotong kata-katanya, "Ratu Jodha, lihatlah ini.." Jalal mengajak Jodha mendekati jendela untuk melihat rembulan. Jalal tersadar kalau tangannya masih menyentuh pundak Jodha, padahal Jodha diam saja, tetapi Jalal dengan sedikit malu menarik tangannya dengan cepat dan menyembunyikan wajahnya dengan malu. Keduanya sama-sama tersenyum malu dan berdiri saling membelakangi. Jalal menunjukan telapak tanganya pada Jodha, "Bisakan kamu lihat tanganku, Ratu Jodha. Tanganku gemetaran saat saya berusaha naik kuda untuk pertama kalinya. Dan saat saya memengal musuhku untuk pertama kalinya. Tanganku gemetaran saat saya memegang mahkota kerajaan Mughal untuk pertama kalinya dan merasakan tanggung jawabku. Tanganku dulu gemetaran. kamu tahu kapan tanganku paling gemetaran? Di hari kita menikah. Di hari saat saya memegang tanganmu untuk pertama kalinya. Menikah denganmu adalah tantangan terbesarku karena saya ingin mendapatkan dirimu. saya ingin membawamu ke haremku sebagai piala kemenanganku. saya ingin menguasaimu, Ratu Jodha. tetapi semuanya berubah perlahan-lahan. saya ingin kamu memahami aku. saya ingin mengalahkanmu, tetapi kamu yang mengalahkan aku." Jalal memunggungi Jodha. Jodha menoleh dengan rasa haru mendengar pengakuan Jalal, dia menyentuh jemari jalal dan menggenggamnya. Jalal terkejut dan berbalik menghadap Jodha dengan perasaan tak percaya. Jodha tersenyum, dia mengangkat tangan Jalal yang ada dalam genggamannya dan menangkupkan tangannya yang satu lagi di atas tangannya Jalal. Jalal pun melakukan hal yang sama. Jalal terlihat sangat bahagia tiada tara. Dia berkata, "aku sangat senang saat menerima suratmu. saya ingin kamu katakan satu kali padaku, kalau itu benar." Jalal menatap Jodha dengan tatapan ingin tahu amat sangat. Jodha tersenyum dan menjawab, "benar, Yang Mulia. Yang saya tulis di surat itu saya merasakannya sungguh-sungguh." Jalal tertawa dan sedikit salah tingkah, "subhanallah..." Jalal tersipu malu dengan sendirinya, di membalikan badan membelakangi Jodha untuk menyembunyikan kebahagiaan yang terpancar di wajahnya, "Ratu Jodha, kamu wanita pertama yang menolakku. Bahkan setelah menerimaku, kamu selalu menentangku. kamu tak pernah menyerah. kamu memiliki ego yang besar seperti diriku. saya mungkin gak punya hati, tapi..." Jodha menyentuh pundak Jalal, "tidak, Yang Mulia. saya tau 1 hal. kamu memiliki hati. kamu pura-pura gak memiliki hati. tetapi kamu memiliki sisi kemanusiaan yang baik di dalam dirimu."

Jalal membalikan tubuhnya menghadap Jodha, "Ratu Jodha, apapun yang kamu tulis di surat itu, saya ingin mengatakannya padamu, tapi.." Jodha bertanya, "tapi apa yang mulia?" Jalal tertawa, "aku, Jalaluddin, telah memberikan perintah pada seluruh pasukan dan rakyatku. tetapi saya tak tau cara mengatakan ini padamu." Jodha meraih jemari Jalal dan mengenggamnya, "yang mulia, kamu tak perlu takut dan ragu. Katakan saja, apapun yang ingin kamu katakan." Jalal menyentuh pipi Jodha dan mengelusnya, "aku tak pernah tunduk di depan siapapun di dunia. tetapi hari ini, saya biarkan diriku di kendalikan olehmu. ~jalal menyentuhkan keningnya di kening Jodha. Jodha mulai terlihat kebingungan~ Dan sesuai keinginanmu, saya adalah milikmu dan kamu adalah milikku." Ketika Jalal hendak mencium Jodha, Jodha memalingkan wajahnya ke samping dengan cepat." Jalal terpana. Jodha bertanya, "apa yang kamu lakukan, Yang Mulia?" Jalal masih dengan tersenyum menyahut, "aku melakukan semua yang kamu minta di surat itu." Jodha dengan heran berkata, "aku gak menulis hal semacam itu dalam surat. saya hanya berterima kasih padamu karena telah bersikap adil. saya memujimu. saya anggap kamu sebagai temanku. Itu saja." Jalal tertawa, "banyak orang bilang kalau wanita gak ungkapkan apa yang mereka rasakan. kamu memanggilku kesini dan sekarang kamu bersikap begitu." Jodha menyahut, "yang Mulia, kamu salah paham. saya tak memiliki perasaan semacam itu padamu." Jalal menyentuh pundak Jodha dan memeluknya dari belakang, "Ratu Jodha, jangan buat saya menunggu. kenapa kamu malu? kamu istrku dan saya suamimu. ~Jalal mencoba membuka mantel tidur Jodha~ Kalau begitu, katakan apa yang kamu rasakan." Jodha menepis tubuh Jalal dan menjauh darinya, "tidak, Yang Mulia." Jalal dengan heran dan tatapan kecewa bertanya, "kenapa, ratu Jodha?" Jodha menjauhi Jalal, "Kau bicara ngawur. kamu terlalu mabuk. Kita memang menikah dan saya anggap kamu sebagai temanku. tetapi saya gak mencintaimu, yang mulia." jalal terbelalak, tetapi dia gak putus asa. Jalal mendekati Jodha, berdiri di belakangnya dan mencoba membuka mantel tidur Jodha dengan paksa, "Ratu Jodha, kamu memanggilku kesini, lalu kenapa kamu bersikap berbeda?" Jodha berteriak, "Yang Mulia!" Dengan refleks Jodha mendorong tubuh Jalal, Jalal hilang keseimbangan dan terjatuh. Jodha sangat terkejut, lebih-lebih Jalal. Dia merasa terhina, terluka dan sangat marah. Jodha dengan pipi basah berkata, "aku gak mengundangmu ke kamarku. saya gak menulis apapun di surat itu yang kamu anggap sebagai pengakuan cintaku." Jodha mendekati Jalal, dan menyentuh lengannya. tetapi Jalal sambil berteriak menampel tangan Jodha dan menatapnya penuh amarah. Lalu kembali ke posisi semula sambil menahan marah. Wajah Jalal memerah, urat-urat di wajah tersembul semua dan matanya terlihat sangat kejam. Jodha berusaha menjelaskan, "memang benar kalau dulu saya membencimu. saya berpikir kalau kamu bukan orang yang baik. tetapi seiring waktu, perasaanku padamu telah berubah. Menurutku kamu orang yang baik. Semua yang kamu lakukan untuk Tasneem, dan semua yang sudah kamu lakukan untuk membela kehormatanku. Itu membantuku melihat sisi baik dirimu. tetapi yang mulia, bukan berarti kalau saya mencintaimu. Cinta adalah perasaan yang berbeda. saya menghormatimu. tetapi saya gak mencintaimu." jalal terlihat sangat terluka mendengar kata-kata jodha, dia memejamkan matanya untuk menenangkan perasaannya. Lalu ketika dia membuka mata, kemarahan yang amat sangat masih terpancar di wajahnya. Jodha masih berkata dengan berlinangan air mata, "aku siap merubah diriku untukmu. tetapi saya belum siap untuk terlalu intim denganmu, Yang Mulia." Jodha melangkah mundur dan membalikan badan. Jalal dengan cepat berdiri dan maraih keramik yang ada di atas meja dan hendak memukulkannya kearah Jodha. Jodha berbalik menatap Jalal karena terkejut. Tangan Jalal terhenti di udara. Keduanya saling bertatapan, Jodha dengan ketakutan dan Jalal penuh kemarahan. Tak sanggup menyakiti Jodha, Jalal melampiaskan marahnya dengan menghantamkan keramik itu ke jendela. Jalal menatap Jodha dengan wajah menakutkan dan mata yang terlihat sangat kejam. Lalu tanpa berkata apa-apa dia bergegas pergi dari hadapan Jodha. Jodha menatap kepergian jalal dengan tubuh gemetar.

Jalal meninggalkan kamar Jdoha dengan sangat marah. Di jalan dia berhenti sejenak, teringat pada surat Jodha yang di baca Mahan anga. Suara maham terdengar lagi saat membaca surat itu, "aku menaydarai kalau saya mencintaimu." Jalal juga teringat bagaimana Jodha meraih jemarinya dann menggenggamnya dan mengatakan, "aku merasakan setiap kata yang saya tulis di surat itu. Katakan apapun yang ingin kamu katakan. kamu akan merasa lebih lega." Jalal juga teringat saat Jodha memalingkan wajah saat dia inggin menciumnya. Serta bayangan saat Jodha mendorongnya ketika dia hendak membuka mantel tidurnya. Mengingat itu semua Jalal menjadi sangat marah dan terluka. Dia menendang api obor hingga terjatuh. Melihat semua itu dan tertawa lebar, "bagus! Ini saat yang saya tunggu. Badai menggelora di dalam dirinya."

Jalal memasuki kamar mandi. Para pelayan berbaris rapi menunggu perintah Jalal. Jalal dengan berteriak marah menyuruh mereka semua pergi. Setelah semua pelayan pergi, jalal membuka semua bajunya dan menenggelamkan diri di dalam bak mandi. Tak lama kemudian kepala Jalal muncul dari dalam air dengan wajah tegang. Dia teringat saat Jodha mengatakan, "aku gak mengundangmu ke kemarku, yang mulia." Jalal masukkedalam air lagi, lalu ketika menyembulkeluar dia berkata, "kau mengundangku ke kamarmu. Lalu kamu mempermalukan aku, Ratu Jodha." jalal masuk lagi kedalam air. Kata-kata Jodha terngiang kembali, "aku gak mencintaimu. tetapi saya siap merubah diriku untukmu. tetapi saya belum siap untuk intim denganmu." Jalalmemejamkan matanya, "kalau kamu gak mencintaiku, kenapa kamu menulis surat itu untukku, Jodha? saya gak akan pernah memaafkanmu, Ratu Jodha."

Di kamarnya, Maham tertawa terbahak-bahak. Resham bertanya, "maafkan aku, Nyonya. saya tak mengerti kenapa kamu tertawa seperti ini?" Maham dengan masih tertawa bertanya, "kau pernah lihat harimau terluka? harimau terluka akan lebih berbahaya. Dia akan lebih menikmati berburu dan kejam pada mangsanya." Resham masih gak mengerti, "apa maksud mu perdana menteri?" Maham dengan menyentuh pundak resham dan berkata, "kalau kamu mengerti, kamu akan ada di tempatku hari ini. ~maham mendorong pundak Resham~ Kadang, pemburu terkena perangkapnya sendiri.  Ratu Jodha berusaha memburu harimau Mughal, Jalal. Jalal terluka karena Ramtanu Pandey. Bagus! Permainan yang luar biasa. tetapi tak ada yang tahu siapa otak di balik permainan ini. Aku! saya gunakan mereka semua sebagai bonekaku! Mereka semua melakukan apapun yang saya perintahkan! saya orangnya, Maham Anga. saya harus memuji diriku sendiri untuk permainan hebat ini. Bagus sekali. saya memang pantas menjadi perdana menteri kerajaan Mughal. saya memang hebat. ~Meham menoleh ke arah Resham~ Apa kamu tahu, Resham. Jurang dalam telah terbentuk antara Jodha dan Jalal hari ini. Mulai sekarang mereka gak akan bisa tidur nyenyak. Dan saya akan hidup damai. saya akan terus mengipas api kebencian antara mereka berdua. Ini adalah awal dari pembalasan dendamku untuk Adham! Dan pada akhirnya, Ratu Jodha akan meninggalkan istana ini selamanya. Ini adalah janjiku untuk diriku sendiri."

Esok paginya, Maham berjalan bersama Javeda dengan wajah sangat-sangat gembira. Javeda bertanya, "ada apa, ibu? kamu kelihatan senang hari ini. saya tak pernah melihatmu sesenang ini. saya jadi ingin melukis dirimu. Siapapun akan mau menbeli lukisanmu yang berwajah bahagia." Maham gak mengubris kata-kata Javeda, dia berkata, "berhenti bicara dan jalan lebih cepat. Kita ada banyak tugas." Javeda menjawab, "baik, ibu." Maham menghampiri kerumuan di taman istana. Seorang bendahara istana memberi tahu maham kalau Munin Khan telah mengirim kekayaan Abu mali dan seorang wanita dari kabul, "saat ini kami sedang mencatatnya." Maham menyuruh pelayan agar membawa semua perhiasan itu pada ratu Ruqaiya, "dia yang akan putuskan yang mana yang akan di simpan dan yang mana yang akan di bagikan. Beberapa pelayan abu mali akan masuk ke harem dan sisanya akan berkerja di tempat lain. Dan saya akan..." Maham membalikan badan hendak melangkah ketika dia melihat sebuah kurungan besar yang tertutup kain berwarna ungu. Maham dengan penasaran bertanya, "ini apa? Seperti kurungan, tetapi tak mungkin ada burung di dalamnya. Terlalu besar untuk burung. Untuk apa kurungan ini?" Seorang wanita kecil yang cantik dan berkerudung dengan suaranya  yang nyaring menjawab, "kau boleh anggap ini sebagai burung. Resah seperi burung dan sangat unik. Dia memiliki banyak kelebihan. " Maham dengan heran bertanya, "benarkah? Apa kelebihannya?" Wanita kecil itu menajwab, "kalau pria melihatnya, mereka takkan bisa memalingkan wajah mereka. bahkan ekspresi wajah mereka akan berubah." Maham bertanya, "benarkah?" Wanita kecil itu dengan bangga menyahut, "percayalah padaku. Dia memiliki kualitas yang unik. kalau di lihat dari depan, orang-orang akan kehilangan kendali." Maham penasaran dan ingin membuktikannya. Dia memanggil seorang penggawal dan menanyakan namanya. Pengawal itu hendak mengatakan namanya. tetapi wanita kecil itu melarang. Dia menyuruh pengawal itu mengintip dulu ke dalam kurungan baru kemudian mengatakan namanya. Pengawal setuju. Wanita kecil itu menyingkapkan kain sehingga pengawal itu bisa mengintip kedalam. Benar saja, pria itu langsung terlihat linglung dan hilang kesadarannya. Sehingga ketika di tanya siapa namanya, dia tak bisa menjawab. Maham tersenyum senang dan berkata kalau Jalal pasti akan menyukainya. Javeda gak setuju. Dia mengusulkan agar Maham menyimpannya saja untuk Adham, suaminya. Maham terliha kesal, lalu menarik Javeda mendekatinya dan berbisik, "kau selalu bicara ngawur, ya? Kalau kamu bicara ngawur lagi, saya akan mengurungmu selamanya. javeda menggeleng ketakutan~ Bisakah kamu berpikir dulu sebelum kamu bicara?" lalu pada petugas bendara maham berkata agar mengirim kurungan itu ke kamarnya.

Sinopsis Jodha Akbar episode 131. Di ruang sidang, Jalal terlihat tegang dan gak konsen. Atgah memberi tahu Jalal tentang urusan politik, tetapi jalal sedang sibuk dengan pikirannya sendiri. Dia gak mendengarkan apa yang di katakan ATgah. Maham melihat sikap Jalal itu dan merasa senang. Setelah menyampaikan informasinya, Atgah bertanya, "Yang mulia, apa perintah anda selanjutnya?" Jalal gak menjawab. Semua orang menunggu dengan heran. Maham berkata dalam hati, "semua orang terlihat kaget. tetapi saya tidak. saya tahu, Jalal gak bisa fokus." Lalu tanpa berkata apa-apa, Jalal meninggalkan ruang sidang di ikuti tatapan mata semua orang. Maham mengejar Jalal dan memanggilnya, " Jalal.." Jalal berhenti menunggu Maham. Setelah dekat, Maham bertanya, "ada apa, Jalal? Kenapa kamu tinggalkan sidang tanpa mengatakan apapun? ~Maham menyentuh kening Jalal~ Apa kamu baik-baik saja? Kemarin kamu sangat bahagia. Apa yang terjadi hari ini?" Dengan geram Jalal menjawab, "apapun yang membuatku bahagia kemarin, sekarang saya marah pada hal yang sama." Maham dnegan pura-pura heran bertanya, "kau marah pada ratu Jodha? Kenapa Jalal?" Jalal menyahut, "aku sedang gak ingin membicarakannya. saya hanya ingin pergi dari sini dan bicara dengan ratu Ruqaiya." maham dengan heran bicara sendiri, "apa yang ingin di bicarakan jalal dengan Ruqaiya?"

Jodha duduk di depan Kanha untuk mengadukan permasalahannya dan berdoa. Pada Kanha Jodha berkata, "apa yang telah kulakukan semalam, Dewa Krisna? saya telah melakukan kesalahan besar. saya harus menemui kaisar dan minta maaf padanya. saya pasti menulis sesuatu di surat itu yang membuat dia salah paham. tetapi saya ingat dengan jelas, kalau saya gak menulis apapun di surat itu yang bisa membuat dia bersikap seperti itu. Lalu apa masalahnya?" Jalal kemudian menyembah Kanha dan beranjak pergi keluar hendak menemui Jalal. tetapi maham menahannya, "ratu Jodha, Salam. Boleh saya tanya kamu mau kemana pagi-pagi begini?" Jodha dengan sedikit ketus menjawab, "kurasa saya berhak gak menjawab pertanyaanmu. tetapi saya akan menjawabmu. saya mau menemui kaisar. saya harus katakan sesuatu padanya." Jodha berniat melanjutkan langkahnya ketika Maham berkata, "itu gak mungkin. kamu gak bisa menemui dia sekarang, ratu Jodha. tetapi saya bisa membantumu. Misalnya...kalau kamu mau tahu kondisi kaisar saya bisa beritahu kau. Kaisar sepertinya sangat gak fokus tetapi bahagia." Jodha dengan terkejut bertanya, "apa? Dia bahagia?" maham dengan tegas menjawab, "ya. benar. Dia terlihat lebih bahagia di bandingkan sebelumnya. Maaf, tetapi sebagai perdana menteri, saya menyarankan kamu untuk gak menganggu kewajiban kaisar. saya permisi dulu." tanpa menunggu sahutan, Maham pergi. Jodha tertegun. ...BACA SELANJUTNYA Sinopsis Jodha Akbar episode 132


Tags: Jodha Akbar, Sinopsis

Terima Kasih sudah Membaca Sinopsis Jodha Akbar ANTV Episode 131. Please share...!

Blog, Updated at: 02:54